Tentang

Dunia sosial terdiri atas subyek-subyek dan relasi antar atau inter subyek. Relasi sosial dimulai dan menguat melalui perjumpaan-perjumpaan antar subyek. Semua institusi sosial, mulai dari keluarga, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain, terdiri atas  aktivitas-aktivitas perjumpaan antar komponen (subyek) di dalamnya. Tidak ada dunia sosial tanpa perjumpaan subyek.

Sistem sosial yang baik, ditentukan oleh kualitas perjumpaan. Semakin berkualitas perjumpaan, relasi atau sistem sosial yang tercipta akan semakin baik dan berkualitas. Sebaliknya, perjumpaan yang tidak berkualitas akan menyebabkan relasi sosial juga akan semakin renggang. Jika perjumpaan adalah syarat bagi terbentuknya relasi sosial, dan jika kualitas relasi menentukan kualitas sistem sosial yang terbentuk, maka tidak ada pilihan lain, dalam rangka mewujudkan relasi sosial yang baik adalah dengan memperbanyak frekwensi perjumpaan antara subyek dan pada saat yang sama memperbaiki kualitas perjumpaan yang ada.

Kualitas perjumpaan bisa dimaksimalkan dengan mengelola emotioning dan languaging.  Emotiong terkait dengan perasaan atau emosi-emosi positif yang harus bangkitkan, sedangkan languaging adalah penggunaan norma-norma yang melekat dalam tindakan berbahasa. Positivitas emotioning dan languaging dalam setiap perjumpaan adalah isu pembelajaran yang berlaku universal.

Perjumpaan mengandaikan adanya pengakuan akan kesamaan harkat dan martabat antar subyek sebagai dasar untuk saling menghargai. Emotioning yang harus beroperasi dalam perjumpaan adalah positivitas, (kasih sayang, ketulusan, optimis, dll) karena tujuan perjumpaan adalah penyatuan (bonding) intersubyektivitas. Dimensi eksterior perjumpaan (tindakan verbal dan non-verbal) merupakan ekspresi dari sikap batin yang berupa emotioning.

“Sekolah Perjumpaan” adalah model pendidikan moral/karakter dengan gerakan  polulis yang  telah melalui eksprimen selama 3 tahun di komunitas-komunitas, pada beberapa titik di pulau Lombok, yang telah berhasil menciptakan relasi sosial yang terbuka, saling berterima dan toleran, dengan mengelola praktik-praktik emotioning dan praktik languaging telah berimplikasi kepada terbangunnya semangat belajar, kepercayaan diri, kepedulian dan kerjasama sosial, toleransi, dan visi hidup menjadi orang-orang yang baik. Bahkan berdampak langsung terhadap melejitnya prestasi-prestasi akademik siswa di sekolah-sekolah. Praktik-praktik emotioning dan languaging yang dimiliki bersama oleh setiap orang, yang selama ini dikelola dengan baik telah terbukti bisa memberikan fondasi bagi kehidupan yang berkarakter dan berdampak langsung dalam prestasi akademik.

Sekolah perjumpaan adalah model pembelajaran nilai-nilai kehidupan yang telah dieksprimentasikan sejak 2013 di 20-an titik yang tersebar di pulau Lombok. Komunitas-komunitas ini yang menjadi laboraturium pembelajaran masyarakat untuk menciptakan sistem sosial yang terbuka, toleran, dan saling berterima. Lokasi-lokasi tersebut tersebar di beberapa titik di Kecamatan Labuapi, Lembar, Peraya, Mantang, Mataram, Gunung Sari 3 (tiga) titik di Mantang, dan Narmada.

 ViSi

Visi sekolah perjumpaan adalah melatih atau mempraktikkan bersama nilai-nilai universal kemanusiaan melalui praktik positive languaging dan normalisasi intentional state, yang secara langsung akan berdampak kepada terbangunnya relasi sosial yang terbuka, toleran dan saling berterima.

MISI

  1. Membangun kompetensi integratif peserta pem­belajar (kompetensi trans-kognitif, kompetensi rekognitif, dan kompetensi kognitif).
  2. Menumbuhkan kemampuan peserta pembelajar dalam mengambil keputusan-keputusan tindakan berdasarkan pertimbangan moralitas universal.
  3. Ter­bangunnya relasi sosial yang terbuka, toleran, saling berterima, humanis dan saling memberdayakan dalam masyarakat yang multi etnik dan multi kultural.
  4. Menumbuhkan kerjasama sosial yang seimbang, adil, dan berkelanjutan antara individu-individu dalam internal komunitas, lembaga, organisasi, dan institusi sosial dan/atau kerjasama lintas komunitas, lintas organisasi dan lintas institusi.